Jangan Asal, Begini Teknik Mengemudi Mobil Matik di Jalur Turunan

Berkendara di jalur pegunungan yang memiliki banyak jalanan menurun, memang menjadi salah satu hal yang harus benar – benar diperhatikan oleh setiap mengemudi.

Karakteristik jalanan menurun yang tidak jarang curam dan panjang, tentu saja mengharuskan setiap pengemudi untuk berhati-hati dan selalu konsentrasi saat melaluinya.

Selain harus berhati-hati dan konsentrasi, pengemudi juga diimbau untuk memahami teknik mengemudi yang tepat, agar terhindar dari kecelakaan fatal. Bila sebelumnya kumparan sudah membahas teknik mengemudi di jalur turunan untuk mobil bertransmisi manual, kali ini giliran teknik mengemudi di jalur turunan untuk mobil bertransmisi otomatik.

Andry Berlianto dari Instruktur Road Safety Agent (IRSA) menjelaskan secara garis besar langkah-langkah yang harus dilakukan antara mobil bertransmisi manual dan otomatik, tidaklah jauh berbeda.

Pada dasarnya sama, yaitu harus memaksimalkan kinerja engine brake terlebih dahulu. Hanya saja cara penggunaan engine brake pada sistem transmisinya yang berbeda,” jelas Andry saat dihubungi kumparan, Senin (9/3).

Gunakan transmisi terendah

Serupa pada mobil bertransmisi manual, pengemudi juga diimbau untuk melakukan engine brake dengan memindahkan tuas transmisi ke posisi gigi yang rendah, bergantung pada tingkat kecuraman dan kecepatan mobil.

Bisa oper ke D2 atau D1, bisa juga pada jenis mobil tertentu dioper ke L (Low). Secara konsep semuanya sama saja, yaitu sebagai gigi terendah,” beber Andry.

Meski tidak ada rekomendasi baku, Andry menyarankan agar penggunaan tuas transmisi D2, D1, dan L, tersebut diaplikasikan saat tingkat kecuraman sudah lebih dari 45 derajat.

Jangan injak pedal rem secara terus menerus

Setelah melakukan engine brake dengan mengoper tuas transmisi ke gigi terendah, pengemudi disarankan untuk tidak menginjak pedal rem secara terus menerus. Lakukan teknik lepas injak atau dikocok agar rem tidak terus menerus bergesekan.

Untuk ngeremnya sebaiknya jangan diinjak terus, sesekali dilepas saja. Karena kalau rem bergesekan terus, dampaknya piringan rem akan panas dan berpotensi menjadi blong,” tutur Andry.

Pada di jalan menurun yang curam dan panjang, Andry menyarankan agar pengemudi selalu menjaga kecepatannya di kecepatan rendah. Hindari terpancing untuk memacu mobil, meski kondisi lalu lintas di depan sepi kendaraan. [source: kumparan.com]

(Visited 10 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.