Bikin Konsumen Tertarik Membeli, Berikut Merupakan Selisih Harga Mobil Listrik | GAET.co.id
Peristiwa, industri dan teknologi otomotif terlengkap Indonesia

Bikin Konsumen Tertarik Membeli, Berikut Merupakan Selisih Harga Mobil Listrik

GAET OTOMOTIF | Berita Otomotif Terlengkap – Faktor – faktor emosional masih menjadi pertimbangan utama dalam membeli mobil listrik, setidaknya untuk konsumen di negara Asia Tenggara (ASEAN). Meski begitu, faktor harga juga tak bisa dikesampingkan.

ASEAN, menurut riset terbaru Frost and Sullivan yang dipaparkan dalam webinar Nissan Futures: Electrification and Beyond 2021, sudah semakin tertarik membeli mobil listrik jika dibandingkan dengan tiga tahun lalu. Dari semua negara di kawasan itu, konsumen – konsumen di Indonesia menunjukkan ketertarikan membeli paling kuat.

Indonesia sendiri segera memasuki era mobil listrik. Jika tak ada perubahan, insentif – insentif fiskal maupun nonfiskal bagi hybrid, plug-in hybrid (PHEV), plus 100 persen baterai mulai berlaku pada Oktober 2021.

Lebih lanjut, dua pertimbangan paling atas dari konsumen di ASEAN yang berminat membeli mobil listrik adalah standar keselamatan lebih baik dan teknologi yang lebih ramah lingkungan. Alasan – alasan fungsional berada di peringkat bawah.

“Dua faktor pertama bersifat emosional. Artinya, faktor emosi sejauh ini masih lebih mendominasi daripada pertimbangan – pertimbangan logis,” ucap Vivek Vaidya selaku Associates Partner, Senior Vice President, Intelligent Mobility Frost and Sullivan Asia Pacific dalam webinar yang berlangsung pada awal Februari ini.

Adopsi mobil listrik yang lebih masif pada masa depan menurutnya tergantung dari berbagai hal. Ada persoalan edukasi, pembuatan dan penyebarluasan infrastruktur pendukung, dan yang tak kalah penting adalah permasalahan harga jual.

Menurut Vivek, idealnya banderol mobil listrik ‘hanya’ lebih mahal maksimal 35 – 40 persen di atas model kendaraan konvensional di segmen yang sama demi mendorong adopsi yang lebih luas. Ini berlaku baik bagi mobil listrik murni maupun PHEV dan hybrid.

“Kalau selisihnya 35 – 40 persen, saya rasa ini (mobil listrik) akan makin menjadi opsi. Tentunya faktor emosi masih memainkan peranan. Tapi, saat pada akhirnya memutuskan membeli, pasti harga juga turut menentukan. Dalam mengusahakan ini, teknologi yang dipakai (pabrikan untuk mobil listrik yang dijual—Red) bisa jadi pertimbangan, begitu pula model bisnis yang memungkinkan konsumen menyewa baterai dan sebagainya. Kalau itu sudah bisa diatasi, adopsi saya yakin bisa meningkat,” papar dia.

Berita Terkait
Leave A Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.